Posted on: June 17, 2020 Posted by: admin Comments: 0

CARA PINTER BIKIN FILM DOKUMENTER PDF

Melalui sebuah media film dokumenter sutradara dapat menyampaikan gagasan kepada audiens dengan cara kreatif. Sebuah fakta. Renita-Renita: Catatan Proses Membuat Film Dokumenter Penulis: Tony Cara Pinter Bikin Film Dokumenter Penulis: Fajar Nugroho Penerbit: Indonesia. ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival .. Aturan-aturan itu telah mengubah cara hidup manusia modern menjadi sebuah Augmented reality yang dimiliki oleh perangkat lunak di dalam ponsel pintar, .. membuat filem dokumenter pertamanya Insispire il vento (Chasing The Wind .

Author: Sashura Arashiktilar
Country: Kosovo
Language: English (Spanish)
Genre: Literature
Published (Last): 21 January 2009
Pages: 236
PDF File Size: 5.44 Mb
ePub File Size: 8.89 Mb
ISBN: 886-8-32140-171-6
Downloads: 92563
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Mobar

Muhammad Rivai Riza atau Riri Riza adalah salah satu fenomena dalam sejarah perfileman Indonesia sekarang. Sebagai seorang sutradara, tak terbantahkan bahwa ia adalah salah satu pelopor bangkitnya industri filem saat ini.

Bersama dengan Mira Doumenter, Nan Achnas, dan Rizal Mantovani, ia menggagas produksi filem Kuldesak —sebuah filem kolaborasi dengan produksi secara independen—diputar di bioskop Studio 21 sebagai penyeimbang dominasi filem-filem Hollywood pada waktu itu. Kemudian mantan penggebuk drum handal dari sebuah band cover version yang terkenal pada tahun an ini, menyutradarai beberapa filem yang secara tema tidak biasa di hadirkan dalam industri filem kita.

Salah satunya Gieyang mengangkat sejarah gelap peristiwa Sukses besar di pasar industri filem ia torehkan melalui Laskar Pelangi dan sekuelnya, Sang Pemimpi. Dua filem ini ditonton lebih dari empat setengah juta penonton.

Sebuah prestasi yang tidak pernah diraih para pendahulu dunia perfileman di Indonesia. Jurnal Footage mendapat kesempatan untuk mewawancara pria ramah ini di kantornya, Miles Production. Menjadi filmmaker sepertinya menjadi passion tersendiri buat lu? Dari awal kenapa gue masuk filem di IKJ? Sebenarnya gue punya minat yang besar terhadap beberapa aspek seni. Yang paling besar tentu dokumebter. Kedua, seni rupa dan fotografi. Artinya begini; gue selalu merasa tertantang untuk mengamati segala sesuatu yang terkait dengan seni, di masa itu.

Pernah juga gue merasa heran, gue melihat lukisannya Raden Saleh di situ.

Tapi sekarang, beberapa kali gue ke sana, gak pernah lihat lagi. Mungkin dia disimpan di ruangan yang khusus. Terus, gue mulai agak bingung mencari posisi di sekolah. Antara menjadi pemain basket yang gak berbakat atau di bidang ilmu pasti sains. Gue tahunya hanya fotografi dan musik yang bisa menjadi penyelamat gue. Nahketika ke IKJ, gue sokumenter bahwa filem itu kombinasi.

Bisa dibilang paling ideal dari semua aspek seni itu. Tentu saja ditambah dengan misalnya, bercerita. Melalui filem kita bisa bercerita. Melalui pelajaran sejarah filem, gue jadi tahu dan mengenal sebuah bangsa, budaya, peristiwa-peristiwa besar di dunia dalam format yang cukup compact.

  IBN TEYMIYYE PDF

Satu setengah jam… dua jam… kita ngerti banyak hal. Bahkan bukan hanya peristiwa, tapi juga emosi dibalik peristiwa.

Nahitu pertama-tama yang gue rasa mengikat gue dengan filem, pada kekuatannya. Dengan filem lu bisa bercerita tentang sesuatu yang besar sekali. Bukan hanya sejarah kecil-kecilan, tapi sejarah bangsa dan masyarakat. Bicara tentang Diponegoro, perang, pekembangan Islam, dan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Penyutradaraan Film Dokumenter by Vicky Hendri Kurniawan on Prezi

Menurut guegila! Menonton filem Kartini misalnya, filem itu membawa kita menarik ke sebuah periode pemikiran dan pergolakan dalam cerita yang ada dramanya, sinematografi, fotografi dan lain-lain.

Itu sangat membuka pjnter. Ada cerita tentang Spike Lee dan Jim Jarmusch.

Riri Riza: Yang Utama adalah Industri Filem!

Ada produsernya yang datang. Gue sama Ugeng Ugeng T. Moetidjo, sekarang periset Forum Lenteng — Red. Wah … pokoknya dahsyatlah! Gue mungkin terinspirasi pada aspek komersial dokumetner menarik dari dunia piinter.

Ketika keluar lulus dari IKJ, gue melihat bahwa gue harus menjadi sutradara filem komersial! Tentu saja punya respek terhadap sejarah filem itu sendiri. Artinya, filem selalu punya sumbangan signifikan terhadap budaya. Sejarah itu direkam dengan baik melalui banyak filem. Filem menyumbang besar sekali terhadap perubahan politik dan sosial di banyak tempat.

Dan keyakinan guefilem akan menjangkau pasar yang luas. Pilihan menjadi sutradara filem di wilayah industri, apakah temuan itu ketika lu di IKJ atau secara akademik? Atau di tempat lain? Gue rasa banyak terkait dengan akademik. Begini, ada satu dosen justru menurut gue yang paling ekstrem dokumenher gue tentang seni filem, Pak Chalid almarhum Chalid Arifin, seorang penata artistik lulusan Sekolah Filem Prancis — Red. Karena gak ada filem yang murah. Filem terjadi ketika dia communicate dengan publiknya.

Ketika dia bisa menyampaikan sebuah pesan terhadap publik. Publik di sini adalah massa. Memikirkan kepada siapa mereka berkomunikasi. Kebanyakan mereka berpikir untuk pasar yang lebar, dalam artian bisa jadi sangat spesifik. Tapi pada saat yang sama, mengupayakan supaya semua orang yang berada pada selera itu menonton filemnya. Itu adalah karakter dari filem. Gue sempat diskusi dojumenter seseorang tentang konsep sutradara. Bayangan gue, sutradara adalah seseorang yang punya interdisiplin. Biki punya aspek-aspek yang cukup kaya di dalam filem.

Terlepas dari apakah itu komersil dan industri atau tidak. Dia dokuemnter harus punya sesuatu yang ingin diungkapkan.

Tentang masanya, waktu yang dia hidupi, dan lingkungan dimana dia berkarya. Cuma memang dalam perkembangannya, dokuumenter tidak bisa berhenti juga pada gilm. Filem menjadi semakin komersial dan komersial, karena memang masyarakat kita pun juga semakin komersial. Kalau kita bicara budaya, kan itu realita yang terjadi di masyarakat sekarang. Biikin pengaruh dari globalisasi, Amerikanisasi tepatnya terutama tempat seperti di Indonesia.

  FARMACOLOGIA VETERINARIA HECTOR SUMANO PDF

Sejak pertengahan an, Indonesia membuka keran sebesar-besarnya terhadap budaya Amerika masuk ke sini melalui filem. Mungkin ada saham dia juga di situ. Kemudian juga ada TV swasta, lisensi undang-undang yang mengatur tentang cars media melalui, televisi, radio, yang dulu hanya monopoli pemerintah dilanggar sendiri oleh pemerintahan Soeharto.

Karena anaknya ingin berbisnis di bidang televisi. Jadi, orang-orang yang ingin punya pernyataan melalui filem sejak pertengahan an, mereka shifting bergeser.

Gue lahir di masa itu. Gue tidak bisa melepaskan kenyataan bahwa, apa yang dulu dianggap pendiri sejarah filem di Indonesia jika filem harus merupakan pernyataan budaya dari sutradara, atau auteur -nya, sudah bergeser. Gue bikin filem di tahunjustru lagi puncak-puncaknya cra itu — Red. TV swasta lagi gila-gilaan! Semuanya ingin pergi ke mallsemuanya ingin mengadopsi budaya Barat terutama gaya visualnya. Puncak-puncaknya di saat gue lagi bikin filem.

Bayangan gue, sutradara itu adalah seseorang yang besar. Karena filem merupakan sebuah aspek yang sangat kompleks. Ada musik, seni rupa, teater, sastra, drama dan lain sebagainya. Belum lagi kita bicara tentang isinya. Persoalannya, ketika ada arus besar kapitalisme atau Amerikanisasi kata lu tadi, pilihannya kan hanya ada dua: Nahdari situ gue pengen tauRi.

Dalam masalah ini kan kita perlu obyektif. Tentu ada pilihan-pilihan yang memang ekstrem dan tidak mau bernegosiasi. Gue jelas dari pertama.

Sejak tahun sampai lulus sekolah, mulai bikin filem-filem dokumenter kecil sendiri, filem Indonesia gak pernah ada di Bioskop Jadi dulu, seperti punya libido yang simpel: Kalau filemnya sutradara Amerika ada di teater satu, dan kita ada di teater tiga atau empat.

Memutar filemnya dari kampus ke kampus secara gerilya. Itu bukan cuma di Indonesia sih terjadi. Di beberapa negara Asia, filem-filem Malaysia awalnya ditayangkan di festival-festival kecil. Impact yang gue rasakan dari memastikan bahwa filem gue didistribusikan secara luas dokmenter bioskop, jauh lebih besar.

Riri Riza: Yang Utama adalah Industri Filem! – Jurnal Footage

Dalam artian, yang menonton lebih banyak. Bisa merasakan dampaknya dan tergerak oleh dampak itu menjadi luas. Gue mulai ketagihan dengan itu.

Categories:

Leave a Comment